Pagi itu, SMA Nusantara terasa lebih ramai dari biasanya. Sekolah sedang mempersiapkan peringatan Hari Besar Keagamaan secara bergiliran. Di tengah kesibukan itu, Raka ditunjuk sebagai ketua panitia. Ia tahu, tugas ini tidak sekadar mengatur acara, tetapi juga menjaga perasaan teman-temannya yang berasal dari latar belakang agama berbeda.
Dalam rapat pertama, muncul perbedaan pendapat. Ada yang mengusulkan kegiatan ibadah bersama, sementara yang lain khawatir akan eksklusivitas acara. Raka mengangkat tangan dan berkata dengan tenang, bahwa setiap siswa berhak menjalankan keyakinannya dengan penuh penghormatan, tanpa merasa diabaikan ataupun dipaksakan.
Ia kemudian mengusulkan konsep “Ruang Refleksi”. Setiap agama diberi ruang dan waktu sendiri untuk beribadah, sementara siswa lain membantu persiapan dengan sikap saling menghargai. Usulan itu sempat hening, lalu perlahan disambut anggukan setuju. Mereka menyadari, perbedaan bukan alasan untuk menjauh, melainkan kesempatan untuk saling memahami.
Hari pelaksanaan pun tiba. Tidak ada sorak sorai berlebihan, hanya ketenangan dan rasa saling menghormati. Beberapa siswa nonmuslim membantu menata sajadah, sementara siswa muslim membantu menyiapkan perlengkapan ibadah agama lain. Tidak ada yang merasa lebih tinggi, tidak pula merasa direndahkan.
Di akhir acara, kepala sekolah menyampaikan bahwa inilah wujud nyata nilai Pancasila: keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dijalani dengan sikap kemanusiaan yang adil dan beradab. Raka tersenyum. Ia belajar bahwa iman yang sejati selalu melahirkan sikap saling menghormati sesama manusia.
Komentar
Posting Komentar